Melindungi Buku dari “Musuh Tak Terlihat”: Peran Fumigasi di Perpustakaan


Fumigasi merupakan salah satu metode pengendalian hama yang digunakan di perpustakaan untuk melindungi koleksi dari kerusakan akibat serangga, jamur, dan mikroorganisme. Dalam pengelolaan perpustakaan, kegiatan ini termasuk bagian dari pelestarian bahan pustaka yang bertujuan menjaga kondisi fisik koleksi agar tetap dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Praktik ini juga sejalan dengan prinsip pelestarian koleksi yang dianjurkan dalam standar pengelolaan perpustakaan.


Secara umum, fumigasi adalah proses pengasapan atau perlakuan tertentu menggunakan zat atau kondisi khusus untuk membasmi organisme perusak koleksi. Hama yang sering ditemukan di perpustakaan antara lain rayap, kutu buku (booklice), kecoa, kumbang pemakan kertas, serta jamur yang tumbuh akibat kelembapan tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, organisme tersebut dapat merusak kertas, tinta, dan bahan penjilidan buku.

Tujuan fumigasi di perpustakaan adalah untuk mengendalikan serangan hama, menjaga kualitas fisik koleksi, serta menciptakan lingkungan penyimpanan yang lebih aman. Selain itu, fumigasi juga membantu memutus siklus perkembangan hama sehingga kerusakan pada koleksi dapat diminimalkan.

Namun demikian, penggunaan metode fumigasi konvensional berbasis bahan kimia perlu dilakukan secara hati-hati. Dokumen dan buku umumnya terbuat dari bahan organik seperti selulosa yang sangat sensitif terhadap perubahan kimia. Beberapa bahan fumigan dapat meninggalkan residu asam yang berpotensi mempercepat kerapuhan kertas, memudarkan tinta, serta merusak jilidan buku. Oleh karena itu, pemilihan metode yang tidak tepat justru dapat mempercepat kerusakan koleksi yang seharusnya dilestarikan.


Dalam praktik pelestarian modern, terdapat beberapa metode fumigasi bahan pustaka. Salah satunya adalah fumigasi anoksia atau Controlled Atmosphere Treatment (CAT). Metode ini dilakukan dengan menempatkan koleksi dalam ruang kedap udara, kemudian oksigen di dalamnya digantikan dengan gas inert seperti nitrogen atau argon. Kondisi tanpa oksigen menyebabkan hama mati secara perlahan tanpa menggunakan bahan kimia beracun dan tanpa meninggalkan residu. Fumigan berbasis gas adalah yang paling umum digunakan karena kemampuannya menjangkau seluruh ruangan tanpa merusak struktur fisik buku. Contoh populer adalah sulfuryl fluoride dan methyl bromide. Gas ini dilepaskan dalam ruangan tertutup dan dibiarkan beberapa waktu agar membunuh semua jenis serangga, larva, dan telur.

Namun penggunaan fumigan gas membutuhkan ventilasi khusus pasca tindakan agar sisa gas tidak membahayakan manusia. Selain itu, diperlukan alat pelindung diri (APD) dan operator bersertifikat yang bisa menjamin keselamatan proses.

Metode lain adalah fumigasi menggunakan karbon dioksida  dengan konsentrasi tinggi dalam ruang tertutup. Gas CO2 bersifat toksik bagi serangga tetapi relatif aman bagi material arsip jika dikendalikan dengan baik. Selain itu, terdapat pula metode pembekuan suhu rendah (low-temperature freezing), yaitu dengan membekukan koleksi pada suhu sekitar - 20 derajat celsius selama beberapa hari untuk membunuh serangga dan larvanya.Fumigas berbasis alami atau organik juga bisa digunakan pada kegiatan fumigasi di perpustakaan. Contohnya penggunaan minyak atsiri, meskipun efektivitasnya sedikit lebih rendah dibanding gas kimia sintetis. Fumigant ramah ingkungan sangat direkomendasikan untuk koleksi buku langka atau perpustakaan dengan ventilasi terbatas.

Beberapa perpustakaan juga menggabungkan metode fumigasi dengan kontrol iklim seperti pengeringan udara, penggunaan silica gel, dan pemanas ruangan untuk mengurangi kelembaban dan mencegah pertumbuhan jamur.


Dalam pelaksanaannya, fumigasi harus dilakukan secara terencana. Tahap awal meliputi identifikasi tingkat serangan hama dan pemilihan metode yang sesuai. Koleksi yang akan difumigasi dipisahkan dan ditempatkan pada ruang atau wadah yang telah disiapkan. Proses ini sebaiknya dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi atau bekerja sama dengan tenaga profesional agar keamanan koleksi tetap terjaga.


Selain fumigasi, perpustakaan juga perlu melakukan perawatan pencegahan seperti menjaga kebersihan ruangan, mengatur suhu dan kelembapan, melakukan pemeriksaan koleksi secara berkala, serta memastikan sirkulasi udara yang baik. Dengan kombinasi antara fumigasi yang tepat dan perawatan lingkungan yang teratur, kelestarian koleksi perpustakaan dapat dipertahankan secara optimal. (ALO)

 

Sumber:

Andi Ibrahim. (2016). Pelestarian Bahan Pustaka. Makassar: Alauddin University Press.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2015). Pedoman Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Perpusnas RI.

Ahli Fumigasi. (2025). Panduan Lengkap Fumigasi Perpustakaan. Diakses dari https://ahlifumigasi.com/2025/05/05/panduan-lengkap-fumigasi-perpustakaan/

 


01, Apr 2026
| 1 days ago

Contact Us

Dispusip Kota Padang

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang
dispusip@padang.go.id

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang
(0751) 895025

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang
Jl. Jend. Sudirman No. 1, Kel. Kampung Jao, Kec. Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat, 25112

Perpustakaan Daerah Kota Padang
Jl. Batang Anai No.12, Kel. Rimbo Kaluang, Kec. Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat, 25111